Friday, October 7, 2016

Bujangan Terakhir

Nama guah Gian Mulyana, lahir dan besar di Bandung.sudah tiga tahun guah hidup di Jakarta dan bekerja sebagai funding officer di saah satu cabang Bank Raharja Utama. Bank Raharja Utama adalah bank daerah yang saat ini sedang mengembangkan usahanya di luar provinsi Jawa Barat. Untuk market cabang yang berada di Jakarta sendiri lebih diprioritaskan sebagai cabang funding yang mana fungsinya untu mencari dana segar untuk disalurkan kembali dalam bentuk kredit untuk cabang lainnya.  
Bekerja sebagai bankers di kota sebesar Jakarta sangat-sangat-sangat rumit karena tingkat persaingannya yang sudah tidak sehat. Hampir semua bank yang berusaha ekspansi melakukan kegiatan fundingnya di kota ini karena mencari orang kaya yang kelebihan uang lebih mudah dibandingkan di kota lain. Mereka lebih melek tentang produk keuangan dan biasanya orang-orang tersebut memiliki akses ke orang kaya lainnya. Tapi karena terlalu mereka terlalu melek dan juga kadang terlalu kaya, biasanya mereka tidak hanya memiliki rekening di satu bank dan yang paling bikin pusing adalah ketika mereka memutuskan untuk menarik semua dana mereka untuk dipindahkan di bank lain yang mau memberi penawaran lebih menarik dari suku bunga, merchandise, layanan prioritas dan sebagainya, yang mana sedang guah alamin bulan sekarang, and the things that make it worse adalah sekarang sudah masuk akhir tahun. Mesti nyari kemana coba buat nutup target yang sudah loss itu?
Tapi bukan itu yang sebenarnya jadi masalah guah sekarang, yang jadi masalah sekarang adalah karena guah sekarang sedang terjebak dalam taksi menuju bandara mengejar flight jam setengah lima sore dan masih terjebak di jalan tol yang penuhnya macam tol pas mudik Lebaran. Ini orang-orang mau kemana sih? Lo pada mau ke Bali juga?!!
"Pak, macetnya masih lama engga nih, Pak? Flight saya jam setengah lima nih,"
"Lho ya, enggak tahu lah, Mas. Saya sopir taksi, bukan peramal," Yang bilang lo dukun siapa juga? 
"Ya, kebut-kebutin dikitlah, Pak. Biar cepet sampe bandaranya,"
"Ide bagus, Mas. Tapi apa engga lebih bagus kalau bandaranya sekalian aja pindahin ke sini biar lebih deket?" Makin stress gua ngobrol sama sopir ini. 
Perjalanan gua kali ini sebenarnya bukan untuk liburan atau hura-hura. Perjalanan gua kali ini adalah untuk memenuhi undangan pernikahan salah satu temen guah yang udah lama banget enggak ketemu, Bahkan gua kira dia udah mati atau diculik buat jadi anggota teroris diluar negeri sana. Well, its kinda weird tough, kita sama sekali udah enggak bertemu selama belasan tahun dan kabar pertama yang gua dengar dari dia adalah melalui email berupa undangan pernikahan dia dan dia sudah menyiapkan segala macam akomodasi mulai dari hotel, tiket pulang-pergi sampai uang saku buat gua biar bisa pergi kesana. Yang dia perlukan cuman balasan email gua yang berisi kata 'Ya' beserta nomor rekening.
Ada beberapa hal yang terlintas dalam kepala gua waktu pertama kali gua baca email itu :
  1. Acaranya akhir tahun. Bagi para bankers yang bonus KPI-nya bergantung kepada pencapaian target, pencapaian akhir tahun benar-benar akan memengaruhi bonus awal tahun gua. Kalau pencapaian gua jeblok, sudah dipastikan bonus gua juga bakal jeblok.
  2. Target gua udah dibawah 70% dan untuk mencapai diatas 90% dan untuk mencapai itu gua harus menyiapkan dana segar yang masuk, let's say...... 4 miliar rupiah. Yang mana kemungkinannya hanya 1: 1.000.000.000.000 gua bakal dapat dana segar dalam waktu hanya dua minggu. Kadang gua suka berharap ternyata Emak gua itu sepupunya Bill Gates, jadi bisa minjem duitnya dulu bentar, barang dua hari aja.
  3. Acaranya di Bali. Bali, meeeeeen! Kapan lagi bisa pamer lagi liburan di Bali?Akhir tahun pula! This is gonna be on my instagram, twitter, path, facebook, DP BBM, profile Linkedin dan semuanya akun sosial media yang gua punya! Funding officer yang lain pasti pada nyinyir liat itu semua. HAHAHAHA!
  4. Orang ini dapet email gua darimana?
Akhirnya setelah berpikir cukup keras gua mendapat semacam wangsit untuk setuju berangkat ke Bali karena target belum tentu bisa tercapai, tapi Bali sudah di depan mata. Buka emailnya aja udah wangi pantai di Bali! Dibandingkan dengan mencari nasabah yang kemungkinannya sangat kecil tersebut walaupun ada di Jakarta.
Satu masalah terakhir yang harus gua selesaikan adalah ijin cuti dari Manager Funding gua karena kalau gua cabut begitu aja, bukan hanya bonus yang engga bakal gua dapet, tapi juga kerjaan gua.  
Dalam keadaan kepepet dan terpuruk seperti ini, mengeksploitasi kelemahan diri sendiri bisa menjadi sebuah keuntungan. Dengan berdalih untuk menjemput dana segar di Bali, gua akhirnya bisa dapat ijin cuti buat ke Bali dengan catatan bila ini gagal, gua harus bersedia dimutasi ke cabang lain di Ujung Kulon sana. And, yes, we have branch office over there. 
Jadi, dengan semua pertaruhan dan rencana gua yang sudah matang ini, kalau gua sampai terlambat buat masuk flight maka sudah dipastikan :
  1. Gua engga bakal bisa posting foto lagi liburan di Instagram, Path, Facebook dan seluruh account sosmed gua.
  2. Gua engga bakal dapat bonus
  3. Gua bulan Januari bakal tinggal satu kosan sama Badak Bercula Satu
  4. Kenyataan bahwa tiga hal itu ternyata lebih penting daripada pernikahan temen gua ini.
  5. Gua masih penasaran darimana orang itu dapet email gua? Se-terkenal itu kah gua? Kalau iya, gua mau daftar ke manajemen artis
Dalam keputusasaan macam gini, terkadang otak kita bisa berpikir lebih jernih dan gua teringat bagaimana ketika kita masih kecil dan engga mau buat bantu orang tua kita. Biasanya mereka akan memberika sebuah motivasi kecil agar kita mau untuk membantu mereka. Kasih duit.
"Ya udah, Pak. Pokoknya kalau bisa sampai ke bandara sebelum jam empat, saya tambahin bayaran bapak lima ratus ribu!" ucap gua putus asa.
"Oh, ya, ngomong toh daritadi, kalau begini ya saya ngerti harus bagaimana!" ucap sang sopir sambil menekan pedal gasnya keras-keras dan mengemudikan mobilnya melalui celah-celah sempit sambil terus menekan klaksonnya
"Kampreeeeet.."