Wednesday, April 6, 2016

Keluarga Dayat


Mata Dayat dengan seksama mencari sepasang sepatu milik Daril, anak pertamanya yang baru berusia 13 bulan. Mencari sepasang sepatu mungil ditengah ketergesaannya mengejar takeoff pesawat yang tinggal beberapa jam lagi serasa sedang mengejar deadline pekerjaan di akhir bulan yang harus dia serahkan kepada bosnya. Dayat sebenarnya tidak setuju kalau anak kecil didandani dengan kostum aneh dan berbagai aksesoris karena menurut dia mubazir, tapi menurut istrinya balita pakai sepatu itu lucu. Argumen Dayat kalah oleh kata lucu dari istrinya.
"Nih, aya sepatu Daril! Yang merah ini kan?"
"Bapa gimana sih? Sepatu anaknya aja sampe engga tahu gitu. Itu mah sepatu dia waktu masih umur 5 bulan, udah engga muat. Sepatu Daril sekarang yang kereta ada mukanya itu lho, Pa, yang Thomas," jelas Desi sambil menggendong Daril yang dari tadi tertidur lelap.
"Kereta ada mukanya segala. Ini yah, kereta mah adanya juga Argo Wilis, Parahyangan, Malabar sama Harina, Kereta ada mukanya mah kereta setan meureun," balas Dayat.
"Udah ah, cepet cari udah telat nih. Iya, sayang, iya. Itu bapa kamu marah-marah terus disuruh nyari sepatu aja, jangan nangis ya jagoan Mama," Desi berusaha membuat Daril kembali tidur sementara Dayat hanya bisa menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. 
Dayat menikah dengan Desi sejak dua tahun lalu dan hidup bersama keluarga kecilnya dengan menyewa apartemen di salah satu daerah pinggiran di Kota Jakarta. Mempunyai keluarga di Jakarta bukan sebuah pilihan mudah karena pertimbangan biaya dan lingkungan Jakarta yang memang keras, tapi Dayat merasa lebih berat harus berjauhan dengan keluarga kecilnya terutama karena tidak tega harus meninggalkan istrinya mengurus Daril seorang diri.
Bekerja sebagai network enginneer di salah satu perusahaan telekomunikasi swasta, Dayat mempunyai penghasilan yang cukup lumayan, tapi hanya cukup saja untuk penghidupan sehari-hari dengan gaya hidup yang sederhana. Setiap bulan gajinya disisihkan untuk menabung untuk impiannya memiliki rumah yang lebih baik untuk keluarga kecilnya, sebagian dia tabung untuk biaya sekolah Daril nanti dan sebagian dia kirim kepada kedua orang tuanya untuk membantu membiayai pendidikan adik bungsunya. Semua beban dan pengeluaran dia siasati agar itu semua tercukupi dan bagi Dayat asal bisa bertemu dengan keluarganya dia sudah merasa cukup dan bahagia. Desi pun mampu menerima itu semua dengan apa yang mereka miliki dengan penuh rasa syukur.
Tapi terkadang terbersit di benak Dayat untuk mampu memberikan lebih dari ini semua kepada Desi dan Daril. Mereka berdua belum pernah merasakan bagaimana manisnya berbulan madu karena pekerjaan Dayat menuntutnya harus bekerja di luar Jawa ketika dia menikah tanpa mendapatkan kompensasi cuti menikah dan hingga saat ini Dayat belum sempat memberikan waktu mereka berdua untuk menikmati waktu bersama selain karena faktor waktu, faktor biaya juga cukup menjadi kendala. Sekonyong-konyong Dayat merasa sangat pelit untuk menyisihkan sedikit uangnya untuk liburan keluarga.
Tapi kesempatan itu akhirnya datang ketika sebuah email datang kepada Dayat. Email tersebut merupakan undangan dari seorang kawan lamanya. Seorang kawan yang sudah lama menghilang dari ingatannya. Dalam email tersebut ada sebuah gambar seorang anak SMA sedang berpose ala Kotaro Minami saat dia akan berubah menjadi Kamen Rider Black dengan sebuah pesan singkat : Sudikah kiranya Kotaro Minami KW 25.676 untuk hadir dalam acara kami di Bali?
Mata Dayat langsung terbelalak melihat email tersebut karena gambar tersebut adalah foto dirinya sewaktu masih SMA untuk buku angkatannya dulu. Who the hell sent this email? Guman Dayat dan di akhir undangan tersebut Dayat menemukan nama Haris.
Pikirannya sejenak kembali ke masa lalu berusaha mengingat sosok bernama Haris tersebut. Haris? Haris Hariawan? Haris yang menghilang sejak pengumuman SPMB waktu itu? Dia hidup? Bagaimana dia tahu email ini? Tiba-tiba berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya untuk dia tanyakan kepada Haris ini

from : rider.dayat8788@gmail.com
to: h.hariawan@harissgroup.com
Punten, ini siapa ya? Seriusan kamu Haris yang suka ngutang gorengan di kantin terus bilang ke tukangnya saya yg bayar?
--Sent!--

Subject : Re:Re:Invitation
From : h.hariawan@harissgroup.com
to : rider.dayat8788@gmail.com
Buset, Yat! Masih inget aja! Apa kabar? Sehat-sehat kan sama keluarga? Maaf, baru bisa ngasih kabar setelah beberapa tahun ini. And I hope you can come for this time. Engga usah khawatir soal transport dan akomodasi, udah disiapin semuanya ok? Just reply this email with your flight plan dan kita ketemu di Bali nanti. Send with the best love. Regards!
PS : Kalo ngamplop, wajib! Hehehe.

Dayat masih tertegun dengan email yang dia baca, apakah dia serius atau hanya bercanda. Dia memberi tahu Desi tentang email yang dia terima, Desi setuju saja asal satu keluarga bisa pergi. Dayat membalas email Haris sesuai dengan keinginan Desi dan Haris menyanggupi. Buset, sekaya apa dia sekarang ya? 
Setelah meminta cuti untuk akhir tahun ini dia akhirnya bisa liburan sambil bertemu teman lamanya itu. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada orang itu. Kenapa dia tiba-tiba menghilang? Kenapa tiba-tiba dia memberikan undangan itu kepada dirinya? Siapa saja yang dia undang? Ini beneran kita sekeluarga ke Bali gratis?
Well, rasa penasaran Dayat akan segera berakhir karena beberapa jam lagi dia segera berangkat ke Bali dengan keluarga kecilnya untuk menghadiri pernikahan teman lamanya dan juga berlibur! Setelah sekian lama akhirnya keinginannya bisa terwujud.
“Nah, ini nih udah ketemu!” teriak Dayat sambil mengambil sepatu Daril dari kolong sofa yang dia beli setahun lalu ketika baru pindah ke apartemen ini.
“Udah semua yah? Udah mau telat nih, ke arah Bandara weekend dekat akhir tahun gini pasti macet!” ucapnya sambil membawa koper dan tas ransel di punggung dan tangannya.
“Eh bentar Pa, topi Daril yang warna biru, yang ada gambar Stich nya mana yah?”
“Topi apalagi, Mamah? Ya udah kita beli aja nanti ya, udah telat nih. Kamu kan tahu macetnya ke sana kayak gimana?”
“Aduh, Pa. Kalau engga pake topi itu malah engga matching sama sepatunya, kan biar Daril keliatan lucu gitu kalau temen kamu itu liat Daril. Siapa tahu dia mau jadi bapak angkatnya Daril, gitu?”
“Duh, Gusti...” It’s gonna be a long vacation.