Mata Dayat dengan seksama
mencari sepasang sepatu milik Daril, anak pertamanya yang baru berusia 13
bulan. Mencari sepasang sepatu mungil ditengah ketergesaannya mengejar takeoff
pesawat yang tinggal beberapa jam lagi serasa sedang mengejar deadline pekerjaan
di akhir bulan yang harus dia serahkan kepada bosnya. Dayat sebenarnya tidak
setuju kalau anak kecil didandani dengan kostum aneh dan berbagai aksesoris
karena menurut dia mubazir, tapi menurut istrinya balita pakai sepatu itu lucu.
Argumen Dayat kalah oleh kata lucu dari istrinya.
"Nih, aya sepatu Daril!
Yang merah ini kan?"
"Bapa gimana sih? Sepatu
anaknya aja sampe engga tahu gitu. Itu mah sepatu dia waktu masih umur 5 bulan,
udah engga muat. Sepatu Daril sekarang yang kereta ada mukanya itu lho, Pa,
yang Thomas," jelas Desi sambil menggendong Daril yang dari tadi tertidur
lelap.
"Kereta ada mukanya segala.
Ini yah, kereta mah adanya juga Argo Wilis, Parahyangan, Malabar sama Harina,
Kereta ada mukanya mah kereta setan meureun," balas Dayat.
"Udah ah, cepet cari udah
telat nih. Iya, sayang, iya. Itu bapa kamu marah-marah terus disuruh nyari sepatu aja, jangan nangis ya jagoan Mama," Desi berusaha membuat Daril
kembali tidur sementara Dayat hanya bisa menggaruk kepalanya yang sama sekali
tidak gatal.
Dayat menikah dengan Desi sejak
dua tahun lalu dan hidup bersama keluarga kecilnya dengan menyewa apartemen di
salah satu daerah pinggiran di Kota Jakarta. Mempunyai keluarga di Jakarta
bukan sebuah pilihan mudah karena pertimbangan biaya dan lingkungan Jakarta
yang memang keras, tapi Dayat merasa lebih berat harus berjauhan dengan
keluarga kecilnya terutama karena tidak tega harus meninggalkan istrinya
mengurus Daril seorang diri.
Bekerja sebagai network
enginneer di salah satu perusahaan telekomunikasi swasta, Dayat mempunyai
penghasilan yang cukup lumayan, tapi hanya cukup saja untuk penghidupan
sehari-hari dengan gaya hidup yang sederhana. Setiap bulan gajinya disisihkan
untuk menabung untuk impiannya memiliki rumah yang lebih baik untuk keluarga
kecilnya, sebagian dia tabung untuk biaya sekolah Daril nanti dan sebagian dia
kirim kepada kedua orang tuanya untuk membantu membiayai pendidikan adik
bungsunya. Semua beban dan pengeluaran dia siasati agar itu semua tercukupi dan
bagi Dayat asal bisa bertemu dengan keluarganya dia sudah merasa cukup dan
bahagia. Desi pun mampu menerima itu semua dengan apa yang mereka miliki dengan
penuh rasa syukur.
Tapi terkadang terbersit di
benak Dayat untuk mampu memberikan lebih dari ini semua kepada Desi dan Daril.
Mereka berdua belum pernah merasakan bagaimana manisnya berbulan madu karena
pekerjaan Dayat menuntutnya harus bekerja di luar Jawa ketika dia menikah tanpa
mendapatkan kompensasi cuti menikah dan hingga saat ini Dayat belum sempat
memberikan waktu mereka berdua untuk menikmati waktu bersama selain karena
faktor waktu, faktor biaya juga cukup menjadi kendala. Sekonyong-konyong Dayat
merasa sangat pelit untuk menyisihkan sedikit uangnya untuk liburan keluarga.
Tapi kesempatan itu akhirnya
datang ketika sebuah email datang kepada Dayat. Email tersebut merupakan
undangan dari seorang kawan lamanya. Seorang kawan yang sudah lama menghilang
dari ingatannya. Dalam email tersebut ada sebuah gambar seorang anak SMA sedang
berpose ala Kotaro Minami saat dia akan berubah menjadi Kamen Rider Black
dengan sebuah pesan singkat : Sudikah kiranya Kotaro Minami KW 25.676 untuk
hadir dalam acara kami di Bali?
Mata Dayat langsung terbelalak
melihat email tersebut karena gambar tersebut adalah foto dirinya sewaktu masih
SMA untuk buku angkatannya dulu. Who the hell sent this email?
Guman Dayat dan di akhir undangan tersebut Dayat menemukan nama Haris.
Pikirannya sejenak kembali ke
masa lalu berusaha mengingat sosok bernama Haris tersebut. Haris? Haris
Hariawan? Haris yang menghilang sejak pengumuman SPMB waktu itu? Dia hidup?
Bagaimana dia tahu email ini? Tiba-tiba berbagai macam pertanyaan muncul di
benaknya untuk dia tanyakan kepada Haris ini
from : rider.dayat8788@gmail.com
to: h.hariawan@harissgroup.com
Punten, ini siapa ya? Seriusan kamu Haris yang suka ngutang
gorengan di kantin terus bilang ke tukangnya saya yg bayar?
--Sent!--
Subject
: Re:Re:Invitation
From
: h.hariawan@harissgroup.com
to
: rider.dayat8788@gmail.com
Buset, Yat! Masih inget aja! Apa kabar? Sehat-sehat kan sama
keluarga? Maaf, baru bisa ngasih kabar setelah beberapa tahun ini. And I hope
you can come for this time. Engga usah khawatir soal transport dan akomodasi,
udah disiapin semuanya ok? Just reply this email with your flight plan dan kita
ketemu di Bali nanti. Send with the best love. Regards!
PS : Kalo ngamplop, wajib! Hehehe.
Dayat masih tertegun dengan
email yang dia baca, apakah dia serius atau hanya bercanda. Dia memberi tahu
Desi tentang email yang dia terima, Desi setuju saja asal satu keluarga bisa
pergi. Dayat membalas email Haris sesuai dengan keinginan Desi dan Haris
menyanggupi. Buset, sekaya apa dia sekarang ya?
Setelah meminta cuti untuk akhir tahun ini dia akhirnya bisa liburan sambil bertemu teman lamanya itu. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada orang itu. Kenapa dia tiba-tiba menghilang? Kenapa tiba-tiba dia memberikan undangan itu kepada dirinya? Siapa saja yang dia undang? Ini beneran kita sekeluarga ke Bali gratis?
Well, rasa penasaran Dayat akan segera berakhir karena beberapa jam lagi dia segera berangkat ke Bali dengan keluarga kecilnya untuk menghadiri pernikahan teman lamanya dan juga berlibur! Setelah sekian lama akhirnya keinginannya bisa terwujud.
Well, rasa penasaran Dayat akan segera berakhir karena beberapa jam lagi dia segera berangkat ke Bali dengan keluarga kecilnya untuk menghadiri pernikahan teman lamanya dan juga berlibur! Setelah sekian lama akhirnya keinginannya bisa terwujud.
“Nah, ini nih udah ketemu!”
teriak Dayat sambil mengambil sepatu Daril dari kolong sofa yang dia beli
setahun lalu ketika baru pindah ke apartemen ini.
“Udah semua yah? Udah mau telat
nih, ke arah Bandara weekend dekat akhir tahun gini pasti macet!” ucapnya
sambil membawa koper dan tas ransel di punggung dan tangannya.
“Eh bentar Pa, topi Daril yang
warna biru, yang ada gambar Stich nya mana yah?”
“Topi apalagi, Mamah? Ya udah
kita beli aja nanti ya, udah telat nih. Kamu kan tahu macetnya ke sana kayak
gimana?”
“Aduh, Pa. Kalau engga pake topi
itu malah engga matching sama sepatunya, kan biar Daril keliatan lucu gitu
kalau temen kamu itu liat Daril. Siapa tahu dia mau jadi bapak angkatnya Daril,
gitu?”
“Duh, Gusti...” It’s gonna be a
long vacation.
No comments:
Post a Comment